Rohidin Mersyah
Rohidin Mersyah, sosok dokter hewan yang kini menjadi Gubernur Bengkulu.

Kemana Kaburnya Puluhan Dokter Hewan Bengkulu?

Posted on 319 views

BENGKULU | CVD-19 Saat masyarakat beserta seluruh komponen pemerintahan di Provinsi Bengkulu berjuang siang-malam menangkal masuknya pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19), belum terdengar andil konkret puluhan dokter hewan asal Bumi Rafflesia tersebut.

Bahkan, partisipasi para “sohib” corona ini melalui Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bengkulu juga belum terpantau. Kemana kaburnya pakar kesehatan masyarakat veteriner (Kesmavet) dan penyakit zoonosis ini?

Kalau aksi berpangku tangan ini karena sengaja membiarkan Dank Romers —sapaan karib Gubernur Rohidin Mersyah di kalangan loyalisnya— tunggang-langgang sendirian di lapangan, maka meminjam jinggle Sang Raja Dangdut dari Wkwkwkwk Land (sebutan netizen untuk Indonesia) sangatlah tepat untuk mengapresiasi mereka: Sungguh terlalu..!

Akankah drh Rohidin Mersyah seorang diri mampu mewakili peran para dokter hewan ini? Semoga saja bisa, meski kurang manusia.

“Sekitar 50-an orang (jumlah dokter hewan se-Provinsi Bengkulu-red). Setahu saya belum dilibatkan. Iya, padahal mereka ini yang faham karakteristik virus corona dan cara efektif cegah penularannya,” ungkap salah satu mantan pejabat Dinas Pertanian Kabupaten Bengkulu Selatan, beberapa hari lalu.

Pakar nutrisi dan makanan ternak —kini telah terbuang jauh ke OPD di luar spesialisasi keilmuannya— ini berpendapat, ada baiknya para dokter hewan ditempatkan di garis depan pencegahan pandemi. Jangan hanya melibatkan dokter manusia yang notabene lebih dibutuhkan saat infeksi terlanjur terjadi kepada manusia.

 

Keakraban di Dunia Virologi

Corona beserta sederetan kerabat dan kroni virus mematikan lainya bagi hewan, tentu sudah tidak asing di benak para dokter hewan. Minimal, nama anggun nan nyentrik yang memiliki empat genus dan mudah bermutasi —sesuai waktu, tempat dan kondisi host-nya— ini sudah mereka kenali sejak menjalani semester pertama di SLTA.

Keintiman ini berlanjut di perguruan tinggi, dibahas lebih detail dalam beberapa Mata Kuliah Dasar Khusus (MKDK) dengan bobot total hingga belasan SKS, disertai praktikum virologi —bagi sebagian calon dokter hewan— lumayan rumit.

Masyarakat kampus pasti faham, resiko mengabaikan MKDK berbobot SKS tinggi ini. Mereka hanya bisa jadi “doktel-doktelan”, bukan dokter hewan sungguhan alias gagal yudicium Strata 1, mudik tanpa bawa ijazah.

Menyimak penjelasan panjang-lebar Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (FKH Unair) Prof Dr Soewarno drh MSi melalui situs resmi Unair, serta menganut prinsip menangani suatu persoalan dari sumbernya, bisa disimpulkan peran dokter hewan di fase pencegahan pandemi Covid-19 sangat strategis, sebab ini merupakan penyakit zoonosis (menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya, antarmanusia, dan kepada makhluk lainnya) yang sudah populer sejak 1960 dan terus berevolusi hingga seganas hari ini.

Sementara peran dokter spesialis/manusia, tentu akan lebih diutamakan saat corona sudah terlanjur menginfeksi tubuh manusia.

Pantauan terkini redaksi media ini, melibatkan dokter hewan di garda depan pencegahan pandemi Covid-19 (SARS-cov19) sudah diterapkan di kota-kota besar dunia, dan terbukti sangat membantu efektifitas upaya para petugas/relawan mengadvokasi masyarakat memutus mata rantai pandemi.

Saat para pakar berkolaborasi putar otak menanggulangi wabah dari sumber penyebabnya, ada baiknya khalayak diajak membuka pemikiran bahwa corona perlu disikapi minimal pada tiga tahap utama.

Yakni langkah pencegahan sebelum terinfeksi. Dilanjutkan tindak/penanganan medis saat sudah terinfeksi. Dan tak kalah penting, mewaspadai dampak jangka panjang bagi pasien positif yang dinyatakan sudah sembuh, serta kemungkinan peluang evolusi corona dalam tubuh manusia sebagai semang baru.

Bagi dokter hewan selevel Romers yang kini juga sudah berevolusi menjadi orang nomor wahid di Bumi Rafflesia, rangkaian 497 kata awam ini tentu belum ada apa-apanya.

Namun minimal dapat diartikan sebagai pengungkit nostalgia wejangan harian guru-guru kita dulu, demi memastikan seluruh masyarakat Bengkulu tetap terbebas horor virus corona.

Selamat berbijaksana menjaga “status hijau” Bengkulu di tengah makin derasnya arus mudik. Jangan risau menyikapi oknum kepala daerah cemen yang pura-pura bego meminta izin lockdown. Salam Kesmavet! [catatan redaksi/berbagai sumber]

top